Hujan di bulan Juni memang selalu dirindukan,Dan bahkan sangat dirindukan hingga Sapardi pun menulis dalam sajaknya,
Mehilangkan jejak-jejak langkah diantara deburan debu di musim kemarau,
Yang akan terus menerbangkan bulir-bulir debu kematamu hingga buatmu menangis,
Namun setidaknya engkau tak perlu risau karena kini hujan telah turun setelah kemarau pergi,
Selamat merajut asamu kembali,
Maafkan jika aku telah menjadi kemarau itu.
Yogyakarta 20 Juni 2014, dari lubuk hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar